Bercita untuk Dunia

Posted by: MAULINA SEPTIARIE  :  Category: Catatan Kecil Dekil

Aku seorang gadis berusia 14 tahun, aku sangat suka dengan televisi. Bagiku, televisi adalah kotak ajaib yang membuatku bisa bertemu dengan banyak orang. Pak Presiden SBY, Mr. Obama, Mrs. Hillary Clinton, Mr. Ahmadinejad, Nicholas Cage, Andy F. Noya, Pak Dino Pattidjalal, Gayus, Ruhut Sitompul, Ibu Sri Mulyani, Pak JK, Justin Bieber, Paris Hilton, Rachel Cory dan masih banyak lagi. Belum lagi, televisi juga membuatku berjalan tak hanya dari Sabang sampai Merauke, namun juga berkunjung ke Mesir hingga daratan Eropa, bahkan Antartika. Tak hanya itu, televisi jugalah yang membuatku tahu apa itu global warming, hujan asam, badai matahari, rumah kaca, naiknya air laut hingga mencairnya es di Kutub. Karena itulah, aku bercita-cita untuk megubah semua energi negatif yang ada, energi negatif yang membuat hutan habis, energi negatif yang menyebabkan bumi jadi semakin panas. Aku hanya ingin ada energi positif yang membuat bumi ini damai, sejuk dan nyaman. Juga tak ada lagi perang. AKU INGIN MENGUBAH DUNIA!!!
”Vidiyaaaaaaa….. sini bantuin Bunda! Ngapain di depan televisi terus?” suara Bunda membuyarkan lamunanku.
Aku pun beranjak ke dapur, menghampiri Bunda yang sedang sibuk membuat kue donat untuk buka puasa.
”Abah belum pulang, Bunda?” tanyaku sambil sibuk menguleni adonan.
”Belum. Masih di kota.”
”Oh……….”
Yagh, beginilah nasib jadi orang desa. Perlu ratusan kilo untuk sampai kota. Tak terbayang olehku untuk sampai di Jakarta, ibu kota negara. Fffiuhh, lalu bagaimana bisa setiap harinya aku berkhayal berkunjung ke gedung putih yang ada di Amerika? Belum lagi, mimpiku yang ingin mengubah dunia. Pergi ke kota saja setahun sekali.
”Heh, malah bengong. Nggak di depan televisi, nggak di meja makan, nggak di dapur, kerjaannya bengong terus. Kenapa?” tanya Bunda sambil merebut adonan yang ada di depanku, takut rusak mungkin.
”Maaf, Bunda. Hehheee….”
”Hari ini kamu nggak ngaji, Nak? Sudah mau asar, lho.”
”Nah, Bunda aneh, tadi kok manggil Vidiya?”
”Habis kamunya juga gitu, kalo nggak dipanggil pasti bengong depan televisi.”
”Ya sudah, Vidiya mandi dulu, yak?” pamitku lalu menuju kamar mandi.
Dua puluh menit kemudian aku bersiap menuju masjid. Lengkap dengan sepeda biruku yang setia menemani.
”Sebelum, kita mengakhiri kegiatan kita sore ini, silakan isi buku The Dream Come True kalian.” kata Pak Ustadz sambil membagikan buku berwarna biru dongker itu.
Buku ini sengaja diciptakan Pak Ustadz untuk memantau perkembangan cita-cita anak didiknya, Pak Ustadz ini termasuk gaul, beliau selalu mendukung murid-muridnya untuk selalu bermimpi, bermimpi dan mewujudkannya.
Saat aku akan mengayuh sepedaku, Pak Ustadz memanggilku kembali untuk memasuki masjid. What’s going on?
”Kenapa cita-citanya diubah, Vid?”
“Nggak apa-apa, Pak. Rasanya terlalu berat mimpi saya itu.”
”Berapa kilo memangnya? Mau minta bantuan untuk membawa mimpi itu.”
”Yeeey… Pak Ustadz malahan ngajakin bercanda. Bukan begitu, Pak. Vidiya ini kan cuma tinggal di desa kecil, mana mungkin bisa mengubah dunia. Ke kota saja hanya setahun sekali, Pak.”
”Lalu? Di buku tertulis, AKU INGIN MENGUBAH NEGARA.”
”Yagh… setidaknya lebih ringan, Pak. Negara sendiri gitu.”
“Memangnya kamu sudah pernah ke Jakarta?”
”Pernah kok, Pak.”
”Kapan?”
”Tadi, waktu nonton televisi, liputannya tentang Festival Timur Tengah, Pak. Jadi saya pernah dong ke Jakarta.”
”Yagh… dasar kamu itu….”
”Heeehee… iya juga ya, Pak. Saya juga belum pernah ke Jakarta. Berarti mimpi saya harus turun kelas lagi dong, Pak.”
”Jadi apa? SAYA INGIN MENGUBAH KOTA SAYA? Begitu?”
”Mungkin.”
”Katanya kamu ke kota hanya setahun sekali? Terus gimana dong?”
”Iya sih, Pak. Cuma setahun sekali, kalo mau lebaran, biasa, tradisi baju baru.” aku meringis.
”Jadi?”
”Turun lagi deh, Pak.”
”SAYA INGIN MENGUBAH KECAMATAN.”
”Nah, yang itu agak cocok, Pak. Biasanya, saya pergi ke kecamatan untuk bantuin Abah, 2 kali tiap bulan. Pas, kan?”
”Bagian apa dari kecamatan yang ingin kamu ubah? Memangnya apa yang negatif?”
”Ehm…. nggak tau juga sih, Pak. Soalnya, di televisi, nggak ada berita tentang kecamatan. Pak Camat aja nggak pernah masuk televisi. Jadinya saya nggak tau.”
”Berarti itu juga nggak cocok.”
“Terus apa lagi? SAYA INGIN MENGUBAH DESA.”
“Oh….”
“Kok Cuma ‘oh’, Pak? Tapi ….”
“Tapi apa? “
“Itu juga berat, Pak. Soalnya, saya kan baru SMP, mana ada yang percaya kalo saya bisa mengubah desa ini?”
”Begini saja, SAYA INGIN MENGUBAH DIRI SENDIRI.”
Tuinggg……. dahiku berkerut. Aku bingung. Ini Pak Ustadz malah nurunin passing grade-ku aja. Dari yang dulunya ’mengubah dunia’, sekarang malah cuma jadi ’mengubah diri sendiri’. Haduh.
”Kenapa? Nggak terima?” tanya Pak Ustadz sambil menahan tawa.
”Kenapa harus diri sendiri, Pak?”
”Karena semua hal besar berawal dari hal kecil. Jadi, kalo ingin mengubah dunia, kita harus berhasil mengubah diri sendiri dulu. Dengan begitu, kita bisa benar-benar memberikan energi positif bagi orang lain.”
Aku tersenyum. Konsep mengubah dunia yang memiliki pendahuluan dengan cara mengubah diri sendiri. Bukan berarti kita lembek dan tidak berani berjuang. Namun justru inilah yang membuat kita introspeksi diri tentang banyak hal, khususnya cita-cita.

Bergerak untuk Tidak Menyerah

Posted by: MAULINA SEPTIARIE  :  Category: Catatan Kecil Dekil

Matahari tersenyum lebar siang itu, namun hal itu tidak menyurutkan langkah tiga sekawan menyusuri jalanan. Langkah mereka berhenti di sebuah halte bus yang penuh dengan calon penumpang. Lima menit kemudian sebuah bus berhenti dan mereka pun ikut berebut untuk masuk ke dalamnya.
”Heh, keluarin dong senjata kita.” bisik salah seorang yang berambut jabrik.
”Kita mulai sekarang aja aksi kita. Kalo nggak, keburu pada turun nanti.” ucap yang hitam manis ikut menimpali.
Aku mengamati gerak-gerik mereka sedaritadi, sebuah pemikiran jelek tentang mereka berkelebat begitu saja. Aku khawatir dengan keselamatan seluruh penumpang. Aku khawatir, aku tidak bisa hadir tepat waktu pada acara sosialisasi yang diadakan seorang kawan lama. Tak enak rasanya jika seorang narasumber datang terlambat.
Semenit kemudian, seorang yang botak, yang sedaritadi didesak untuk mengeluarkan senjata, membuka tas punggung yang dibawanya. Gila, kalo saja bawa pisau, aku rasa tak perlu tas ransel, batinku sambil terus melirik tiga sekawan itu. Keringat dingin mengucur dari dahiku, bagaimana jika tiga pemuda itu membawa senjata api? Lalu mereka menyekap kami dan meminta tebusan pada masing-masing keluarga kami. Atau jangan-jangan nyawa kami akan melayang di tangan mereka? Astagfirullah… aku beristigfar dalam hati. Tak sepatutnya aku berburuk sangka pada-Nya.
Si Hitam Manis berjalan menuju barisan belakang, sementara si Jabrik menuju tengah, membuat jantungku berdegup kencang. Namun, sedetik kemudian, benda yang dikeluarkan si Botak justru membuatku ingin menertawakan diri sendiri.
”Jreeenggg…. Assalamu’alaikum, selamat siang para penumpang yang berbahagia, izinkan kami mempersembahkan sebuah lagu, sebagai teman setia perjalanan anda di siang yang terik ini.” si Botak justru mengeluarkan sebuah gitar kecil.
Tak ada manusia yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali apa yang pernah terjadi
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugrah
Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik
Jangan menyerah
Jangan menyerah
Aku tersenyum melihat si Botak mengakhiri alunan suaranya, lagu spesial yang menemani perjalanan spesial bertemu dengan teman lama. Dalam hati, aku meminta maaf sepenuhnya kepada mereka karena telah berburuk sangka. Aku mengambil selembar uang dari dalam saku, lalu memasukkannya ke dalam kantung plastik yang dibawa si Hitam Manis, sebuah senyuman tercipta saat dia melihat aku memasukkan lembaran itu. Aku lupa berapa besarannya, hanya saja aku cukup terhibur siang itu, hitung-hitung juga sebagai ungkapan rasa bersalahku.
Aku beranjak dari tempat dudukku, ku beritahukan pada kenek bus bahwa aku berhenti di halte depan. Sebuah gedung kecil yang disewa kawan lama nampak sudah ramai, aku melangkah dengan pasti. Tapi tunggu dulu, sepertinya aku ingin ke kamar mandi, sekedar ingin cuci muka.
Lima menit kemudian aku keluar dan melihat kawan lamaku sedang berbincang dengan tiga orang lelaki, mungkin anak buahnya. Tunggu dulu, sepertinya aku kenal siapa tiga orang itu.
”Ini Mas, sekedar untuk menambah jatah konsumsi kawan-kawan, rezeki terakhir.” kata si Botak sambil menyerahkan bungkusan pada kawan lamaku itu.
”Kalian dapat uang dari mana? Ngamen lagi?”
”Iya, Mas. Yagh, memang ini yang bisa kami bantu. Namanya juga merintis, biar kami tidak tergantung terus sama mas Desta.” jawab Jabrik
”Desta? Acaranya belum mulai kan?” tanyaku memecah perbincangan mereka.
”Aulia? Kapan datang? Eh, kenalin, ini Jono, Munir dan Oni.”
”Ini kan Teteh yang tadi.” celetuk si Hitam Manis yang ternyata bernama Oni.
”Kamu kenal mereka?” tanya Desta.
”Teh Aulia, yak, namanya? Iya, tadi kan Teh Aulia yang memberi sumbangan paling banyak. Oni saja masih inget yang mana uangnya.”
”Syutttt…. ada-ada aja kalian ini.” mataku melotot dan menahan senyum.
”Jadi ngerepotin narasumber nih ceritanya.” ucap Desta.
“Narasumber? Jadi Teh Aulia yang ini?” kata si Jabrik yang bernama Munir sambil menggaruk-garuk kepala.
“Mereka ini bisa dibilang the full of spirit. Mereka relain ngamen sejak kemarin, agar acara hari ini bisa terlaksana.” Desta mulai bercerita.
”Kemarin?”
”Iya kemarin. Sejak kemarin, mereka menghilang, baru kembali sekarang dan membawa ini.” Desta menunjukkan kantung plastik yang penuh berisi uang.
”Mas Desta bisa sajaa… Ini semua kan ajaran Mas Desta juga, tentang sebuah pengabdian pada masyarakat. Organisasi ini kan untuk masyarakat, jadi nggak salah dong kalo kami mengamalkan ilmu dari Mas Desta.” Jono yang berkepala botak ikut ambil suara.
Desta dan anak buahnya mengajakku masuk ke dalam gedung. Sebuah rangkaian acara yang disiapkan dengan matang, peserta yang aktif, membuatku puas sebagai seorang narasumber. Dari kejauhan aku menatap Jono, Munir dan Oni yang duduk-duduk sambil tetap membawa gitar kecil mereka. Mungkin mereka sedang mengalunkan lagu D’masiv lagi. Mungkin mereka bahagia bisa berkontribusi bagi kegiatan ini. Mereka rela ngamen, agar sebuah acara bisa terlaksana. Mereka bergerak disaat yang lainnya berpikir apakah akan dapat makan saat acara berlangsung. Dan sekarang mereka tersenyum bisa membawa hasil keringat mereka. Yagh, jangan menyerah kawan!